Selasa, 26 April 2011

Penelitian Tindakan Kelas: pengertian dan jenis-jenis Hipotesis


1.   Pengertian Hipotesis
Hipotesis merupakan prediksi mengenai kemungkinan hasil dari suatu penelitian. Hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Hipotesis belum tentu benar. Benar tidaknya suatu hipotesis tergantung hasil pengujian dari data empiris.
Penelitian yang dilakukan sebenarnya tidak semata-mata ditujukan untuk menguji hipotesis yang diajukan, akan tetapi penelitian itu bertujuan menemukan fakta yang ada dan terjadi di lapangan. Fakta yang dimaksud sifatnya riil dan objektif. Hubungannya dengan hipotesis adalah, apakah fakta yang ditemukan di lapangan itu mendukung atau tidak mendukung hipotesis yang diajukan oleh peneliti, apakah dapat diterima atau ditolak.
Hipotesis dirumuskan utamanya berdasarkan hasil telaah pustaka. Dengan demikian bentuk rumusannya harus sejalan dengan hasil telaah pustaka atau bahasan teoritik dan relevan dengan rumusan masalah.
2.   Jenis-jenis Hipotesis
a.   Hipotesis dilihat dari kategori rumusannya
Dibagi menjadi dua bagian yaitu (1) hipotesis nihil yang biasa disingkat dengan Ho (2) hipotesis alternatif biasanya disebut hipotesis kerja atau disingkat Ha.
Hipotesis nihil (Ho) yaitu hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungannya atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain. Contohnya: Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain. Contohnya: Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
Hipotesis alternatif ada dua macam, yaitu directional Hypotheses dan non directional Hypotheses (Fraenkel and Wallen, 1990:42 ; Suharsimi Arikunto, 1989:57).
Hipotesis terarah adalah hipotesis yang diajukan oleh peneliti, dimana peneliti sudah merumuskan dengan tegas yang menyatakan bahwa variabel independen memang sudah diprediksi berpengaruh terhadap variabel dependen. Misalnya: Siswa yang diajar dengan metode inkuiri lebih tinggi prestasi belajarnya, dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan metode curah pendapat.
Hipotesis tak terarah adalah hipotesis yang diajukan dan dirumuskan oleh peneliti tampak belum tegas bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Fraenkel dan Wallen (1990:42) menyatakan bahwa hipotesis tak terarah itu menggambarkan bahwa peneliti tidak menyusun prediksi secara spesifik tentang arah hasil penelitian yang akan dilakukan.
Contoh: Ada perbedaan pengaruh penggunaan metode mengajar inkuiri dan curah pendapat terhadap prestasi belajar siswa.

b.   Hipotesis dilihat dari sifat variabel yang akan diuji.
Dilihat dari sifat yang akan diuji, hipotesis penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) hipotesis tentang hubungan dan (2) hipotesis tentang perbedaan.
Hipotesis tentang hubungan yaitu hipotesis yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih, mengacu ke penelitian korelasional.
Hubungan antara variabel tersebut dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: (a) hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik, (b) hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik, (c) hubungan yang menunjuk pada sebab akibat tetapi timbal balik.
a)      Hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik, contohnya: Hubungan antara kemampuan fisika dengan kimia.
     Nilai fisika mempunyai hubungan sejajar dengan nilai kimia, tetapi tidak merupakan sebab akibat dan timbal balik. Nilai fisika yang tinggi tidak menyebabkan nilai kimia yang tinggi, dan sebaliknya. Keduanya memiliki hubungan mungkin disebabkan karena faktor lain, mungkin kebiasaan berpikir logik (tentang ke IPA-an) sehingga mengakibatkan adanya hubungan antara keduanya.
b)      Hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik. Contohnya: Hubungan antara tingkat kekayaan dengan kelancaran berusaha. Semakin tinggi tingkat kekayaan, semakin tinggi tingkat kelancaran usahanya, dan sebaliknya.
c)      Hubungan yang menunjuk pada sebab-akibat, tetapi tidak timbal balik. Contohnya hubungan antara waktu PBM, dengan kejenuhan siswa. Semakin lama waktu PBM berlangsung, siswa semakin jenuh terhadap pelajaran yang disampaikan.
     Sedangkan hipotesis tentang perbedaan, yaitu hipotesis yang menyatakan perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda. Hipotesis tentang perbedaan ini mendasari berbagai penelitian komparatif dan eksperimen.
Contoh (1): Ada perbedaan pretasi belajar siswa SMA antara yang diajar dengan metode ceramah + tanya jawab (CT) dan metode diskusi (penelitian eksperimen).
Contoh (2): Ada perbedaan prestasi belajar siswa SMA antara yang berada di kota dan di desa (penelitian komparatif).

c.    Jenis Hipotesis yang dilihat dari keluasan atau lingkup variabel yang diuji.
           Ditinjau dari keluasan dan lingkupnya, hipotesis dapat dibedakan menjadi hipotesis mayor dan hipotesis minor. Hipotesis mayor adalah hipotesis yang mencakup kaitan seluruh variabel dan seluruh objek penelitian, sedangkan hipotesis minor adalah hipotesis yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub dari hipotesis mayor (jabaran dari hipotesis mayor).
Contoh: Hipotesis Mayor
           “Ada hubungan antara keadaan sosial ekonomi (KSE) orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP”.
Contoh: Hipotesis Minor.
1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi  belajar siswa SMP.
2. Ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP.
3. Ada hubungan antara kekayaan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP.


3.    Karakteristik Hipotesis yang baik
Sebenarnya nilai atau harga hipotesis tidak dapat diukur sebelum dilakukan pengujian empiris. Namun demikian bukan berarti dalam dalam merumuskan hipotesis yang akan diuji dapat dilakukan “semau kita”. Ada beberapa kriteria tertentu yang memberikan ciri hipotesis yang baik.
Ciri-ciri hipotesis yang baik menurut Donsld Ary, et. al (dalam Arief Furchan, 1982:126-129) adalah:
1)         Hipotesis harus mempunyai daya penjelas.
Suatu hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya di jelaskan/diterangkan.
2)         Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variabel-variabel.
Suatu hipotesis harus memprediksi hubungan antara dua atau lebih variabel.
3)         Hipotesis harus dapat diuji.
Hipotesis yang diajukan peneliti harus bersifat testability artinya terdapat kemampuan untuk dapat diuji.
4)         Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada. Hipotesis hendaknya tidak bertentangan dengan teori atau hukum-hukum  yang sebelumnya sudah mapan.
5)         Hipotesis hendaknya sesederhana dan seringkas mungkin.
Sedangkan menurut John W. Best (1997) bahwa ciri-ciri hipotesis yang baik adalah (1) bisa diterima oleh akal sehat (2) konsisten dengan teori atau fakta yang telah diketahui (3) rumusannya dinyatakan sedemikian rupa, sehingga dapat diuji (4) dinyatakan dalam perumusan yang sederhana dan jelas.
Borg dan Gall (1979:61-62) menyatakan bahwa hipotesis dapat dikatakan baik manakala memenuhi 4 (empat) kriteria, yaitu:
1)      Hipotesis hendaknya merupakan rumusan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel.
2)      Hipotesis yang dirumuskan hendaknya disertai dengan alasan atau dasar-dasar teoritik dan hasil penemuan terdahulu.
3)      Hipotesis harus dapat diuji.
4)      Rumusan hipotesis hendaknya singkat dan padat.
        Satu hal yang dapat dijadikan kriteria penyusunan hipotesis adalah bahwa hipotesis seharusnya dirumuskan dalam kalimat pernyataan, bukan pertanyaan atau yang lain.
Pengujian hipotesis
              Mengenai pengujian hipotesis, sebagaimana dikemukakan Donald Ary et. al (dalam Arief Furchan, 1982:1330 bahwa untuk menguji hipotesis, peneliti:
1)      Menarik kesimpulan tentang konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar.
2)      Memilih metode-metode penelitian akan memungkinkan pengamatan, eksperimentasi, atau prosedur lain yang diperlukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak, dan
3)      Menerapkan metode ini serta mengumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukkan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.
              Dalam pengujian hipotesis, hipotesis tersebut harus lulus dari tes empiris dan tes logika. Hipotesis diuji secra empiris, yang biasanya menggunakan statistik inferensial, yang selanjutnya hasil perhitungannya dikonsultasikan dengan angka koefisiensi (korelasi, uji t, dan sabagainya) yang terdapat dalam tabel teoritik.
              Hipotesis tidak selalu harus ada dalam penelitian. Ada penelitian yang tanpa harus mengajukan dan merumuskan hipotesis, yakni apabila peneliti tidak/belum dapat menemukan prediksi jawaban terhadap hasil penelitian. Bukan berarti penelitian tanpa hipotesis lebih jelek kualitasnya dibandingkan dengan penelitian berhipotesis. Mengenai kualitas penelitian tak dapat diukur dengan ada atau tidaknya hipotesis.
              Penelitian-penelitian yang biasanya tanpa hipotesis antara lain (1) penelitian deskriptif (2) penelitian historis (3) penelitian evaluasi dan lainnya.



Definisi dan jenis-jenis variabel


VARIABEL
A. VARIABEL
            Variabel dapat diartikan sebagai suatu konsep yang memiliki nilai ganda, atau dengan perkataan lain suatu faktor yang jika di ukur akan menghasilkan skor yang bervariasi. Variabel pebnelitian merupakan gejala yang menjadi objek penelitian. Menurut Fraenkel dan Wallen (1990:36) variabel adalah suatu konsep benda yang bervariasi.
            Variabel yang memiliki variasi sederhana adalah variabel dikotomus. Variabel ini hanya bervariasi dua, misalnya:
v  Variabel jenis kelamin : pria – wanita
v  Variabel jarak tempuh : jauh – dekat
Dua contoh jika diperhatikan tidak sepenuhnya sama. Perbedaan antara pria dan wanita pada variabel jenis kelamin terdapat batas nyata dan pilah atau diskrit, sedangkan perbedaan antara jauh dan dekat pada variabel jarak tempuh tidak terdapat batas nyata dan pilah.
 1. Variabel dilihat dari hasil pengukuran
            Variabel dapat pula dibedakan berdasarkan hasil pengamatan dan/atau hasil pengukuran. Ada empat tingkat variabel yang dihasilkan dari pengukuran dan/atau pengamatan, yaitu variabel berskala nominal, ordinal, interval dan ratio.
     1) Variabel berskala nominal
            Variabel berskala nominal adalah variabel yang menunjukkan label yang hanya mampu membedakan antara ciri atau sifat unit satu dengan lainnya. Variabel ini bersifat diskrit dan saling pilah antara kategori yang satu dengan kategori yang lain. Contoh variabel nominal antara lain adalah jenis kelamin: perbedaan antara pria dan wanita. Variabel tidak memiliki jenjang bertingkat. Jadi pengertian lebih tinggi atau lebih rendah dalam hal ini tidak berlaku . apalagi untuk diukur jarak perbedaan antara kedua ciri itu serta diperbandingkannya, pada variabel nominal tidak mungkin.
            Variabel nominal dapat dikategorikan nominal dikotomus dan nominal non dikotomus (kategirial). Jenis kelamin merupakan conoh variabel nominal dikotomus, sedangkan contoh dari nominal non dikotomus adalah jenis pekerjaan, jurusan di suatu fakultas.
     2) Variabel berskala Ordinal
Variabel ordinal adalah variabel yang tersusun berdasarkan jenjang dalam atribut tertentu. Variabel ordinal memiliki variabel bertingkat yang menunjukkan urutan. Urutan ini menggambarkan adanya peringkat, jarak tingkat satu dengan tingkat lainnya tidak dapat diketahui dengan jelas. Penetapan kejuaraan dalam perlombaan lari, (juara satu, dua dan tiga) merupakan sebuah contoh variabel ordinal.
3) Variabel berskala interval
Variabel interval merupakan variabel yang skala pengukurannya memiliki jarak yang konsisten atau memiliki satuan/unit tertentu. Misalnya nilai atau prestasi belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk skor, dapat dikenal adanya skor 5,6,10 dan sebagainya.
Variabel yang berskala interval mempunyai sifat dapat membedakan antara unit yang satu dengan yang lain, menunjukkan peringkat, dan memiliki jarak yang tetap. Namun pada variabel yang berskala interval tidak memiliki titik nol mutlak, sehingga skor-skor yang ada di dalamnya tidak bersifat bandingan.
4) Variabel Ratio
        Variabel rasio adalah variabel yang dalam kuantifikasinya mempunyai nol mutlak. Variabel yang berskala ratio dapat menunjukkan sifat perbandingan. Seperti hasil pengukuran berat badan, seorang yang berat badannya 50 kg adalah setengah dari orang yang berat badannya 100 kg.
        Gambaran tentang ciri komulatif dari masing-masig skala pengukuran variabel tersebut di atas, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel tentang ciri-ciri komulatif skala
pengukuran variabel
Skala variabel
Bertingkat
Jarak
Banding
Nominal
Ordinal
Interval
Ratio
-
v
v
v
-
-
v
v
-
-
-
v

2. Variabel dilihat dari sifatnya
        Dilihat dari sifatnya, variabel dapat dibedakan menjadi dua yaitu, (1) variabel aktif dan (2) variabel atributif.
1)      Variabel aktif adalah variabel yang memungkinkan untuk dimanipulasi atau diubah sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Metode mengajar merupakan suatu contoh variabel aktif. Pada suatu proses belajar mengajar, setiap saat seorang guru dapat mengganti metode mangajar yang digunakannya jika guru itu menghendakinya.
2)      Variabel atributif merupakan variabel yang sifatnya tetap, dan dalam kondisi yang wajar sifat-sifat itu sukar diubahnya. Variabel ini identik dengan variabel nominal. Seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan jenis sekolah, tempat tinggal, dan sebagainya. Sifat yang ada padanya adalah tetap, untuk itu peneliti senantiasa hanya mampu berbuat untuk memilih atau menyeleksi. Oleh karena itu variabel jenis ini disebut juga variabel selektif. Dalam proses pengelompokan subjek, misalnya, peneliti akan mengelompokkan ke dalam sub kelompok sampai dengan kriteria sebagai berikut:
Ø  Kelompok wanita yang anak guru.
Ø  Kelompok wanita yang bukan anak guru.
Ø  Kelompok pria yang anak guru.
Ø  Kelompok pria yang bukan anak guru.
Peneliti hanya menyeleksi subjek sesuai dengan karakteristik yang ada pada tiap subjek atau unit sampel.
3. Variabel dilihat dari peranannya.
            Jenis variabel ditinjau dari fungsinya di dalam penelitian adalah sebagai beriku:
(1) Variabel bebas
(2) Variabel tak bebas.
(3) Variabel perantara
            Variabel bebas dapat dibedakan lagi menjadi beberapa macam variabel, antara lain yaitu variabel moderator, terkendali, dan variabel random.
            Untuk mengklasifikasikan variabel berdasarkan peranannya cenderung orang memulai dengan mengklasifikasikan variabel terikatnya. Hal ini terjadi karena variabel terikat yang menjadi titik pusat permasalahan. Contohnya dalam bidang pendidikan adalah prestasi belajar sebagai pokok persoalannya (sebagai variabel terikat). Variabel terikat tersebut tergantung kepada banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut sabagai variabel bebas. Satu atau lebih variabel bebas tersebut akan dipelajari pengaruhnya terhadap variabel terikat. Contoh variabel tergantungnya adalah prestasi belajar. Variabel bebasnya dapat metode mengajar. Disamping metode mengajar masih banyak variabel yang mempengaruhi prestasi belajar, misalnya: Jenis kelamin. Jenis kelamin tersebut berperan sebagai variabel moderator. Umur juga mempengaruhi prestasi belajar anak. Variabel yang diabaikan pengaruhnya itu disebut rambang. Dalam contoh model di atas yang menjadi variabel intervening adalah proses belajar yang terjadi pada diri subjek yang diteliti.

'Ikan Duyung' Gegerkan Kepulauan Selayar

'Ikan Duyung' Gegerkan Kepulauan Selayar
Berbagai cerita mistik dan dongeng menyebar ke seantero kampung.

Juma Ali dengan 'ikan duyung' temuannya.

            Selasa pagi, 11 Januari 2011, warga Dusun Tongke-Tongke, Desa Lowa, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, mendadak gempar. Pasalnya, ditemukan seekor makhluk laut sejenis ikan yang diyakini warga setempat merupakan penjelmaan manusia dan hewan laut. Para nelayan di situ bahkan meyakini itu seekor 'ikan duyung'.Belum jelas, apa sebetulnya makhluk aneh ini.
       Hewan berkelamin betina ini ditemukan warga Dusun Tongke-Tongke bernama Juma Ali (40), terdampar di pesisir pantai Bala-Bala Desa Lowa. Sesaat sebelum ditemukan, makhluk laut yang disebut-sebut penduduk sejatinya seorang manusia asal Kota Kendari yang dikutuk sihir ini, nyaris tak dapat menyambung nafas.
         Pasalnya, tubuh hewan laut tersebut telah ditempeli sejumlah gomi--sejenis lintah penghisap darah--sebesar telapak tangan orang dewasa. Beruntung, Juma Ali dapat menanggalkan lintah-lintah laut itu.
Setelah itu, Juma Ali mencoba mengembalikan hewan langka itu ke laut. Akan tetapi, 'ikan duyung' ini seperti selalu menolak meronta-ronta. Juma Ali lalu memutuskan untuk memeliharanya. Seutas tali diikatkannya di bagian ekor. Tujuannya: sebagai tolak bala, untuk menghindarkan Dusun Tongke-tongke dari hantaman badai dan gelombang pasang yang sedang mengamuk belakangan ini.
Semenjak menemukan hewan pemakan rumput laut itu, Juma Ali jadi sibuk bukan kepalang. Dia nyaris tidak lagi dapat melaksanakan aktivitas rutinnya.
           Tiap hari, dia harus memenuhi permintaan warga setempat dan juga aparat dari instansi pemerintah setempat yang datang ke situ untuk sekadar menyaksikan dan mengabadikan foto ikan langka ini.
Payahnya, mereka yang ramai datang berkunjung, jarang yang mau menyisipkan rupiah ke kocek Juma Ali. Jadilah Juma Ali, yang kadang harus melawan dingin untuk meladeni permintaan penonton, gigit jari sembari memendam dongkol.
          Memasuki hari keenam makhluk aneh itu ditemukan, berbagai cerita mistik dan dongeng makin menyebar ke seantero kampung. Ada yang bilang 'ikan duyung' itu seperti selalu malu-malu kucing jika didekati orang laki-laki. Yang lain lagi berkisah ia selalu menangis saat merasa terancam. Ada juga yang sampai bermimpi gawat: diancam makhluk itu bahwa bila tak segera dilepas ke laut bebas, maka Pulau Selayar dan sekitarnya segera akan musnah ditelan samudera.

Senin, 25 April 2011

Bulukumba: Penyakit "Aneh" Kulit seperti habis terbakar

1 Warga Bulukumba Diserang Penyakit Aneh
 
Nurhayati (40), merupakan satu dari tiga penderita penyakit kulit aneh yang pada umumnya kulit mereka melepuh seperti habis tersulut api.
 
BULUKUMBA— Penyakit kulit aneh ditemukan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kulit penderita melepuh bak tersulut api, gatal hingga perih menyertainya. Kelainan ini dialami seorang ibu rumah tangga, Nurhayati (40).
Kediaman ibu empat anak ini di Kelurahan Ela-Ela, Kecamatan Ujungbulu, akibat penyakit ini Nurhayati hanya bisa terbaring lemas tak berdaya di atas lantai beralas kasur.
Sudah sepekan seluruh kulit Nurhayati melepuh seperti habis terbakar, gatal, dan terkelupas. Bahkan, Nurhayati sering kali menjerit kesakitan karena rasa perih yang sesekali datang. Anehnya, sesekali anak Nurhayati yang merawat ibunya sering kali menemukan kutu keluar dari dalam lubang telinganya.
"Selama ibu sakit dia tidak pernah kena air karena kulitnya terus mengelupas dan melepuh," ujar Hartatiah, anak pertama Nurhayati.
Kendati sempat mendapat perawatan di rumah sakit, pihak keluarga terpaksa memulangkan Nurhayati karena uang yang dikumpulkan untuk pendidikan keempat anaknya dari hasil petani rumput laut sudah habis.
Dalam dua bulan terakhir sudah tiga warga Kabupaten Bulukumba ditemukan menderita penyakit aneh ini. Nasarudin (37), warga Desa Balong, Kecamatan Ujungloe, yang kedua tangan dan kakinya terus mengecil, bahkan betisnya terus mengelupas dan membengkak bagaikan bola tenis sehingga Nasaruddin tak dapat meluruskan kedua kakinya itu.
Sementara itu, Sayuti (40), Desa Benteng Malewang, Kecamatan Gantarang, sejak 20 tahun kulitnya bersisik bagaikan sisik kulit ikan. Gejala yang dialami ketiga penderita penyakit kulit aneh ini nyaris sama, di mana diawali dengan munculnya bintik-bintik kecil disertai gatal dan rasa perih.
Ketiga penderita penyakit aneh ini tak dapat melanjutkan pengobatannya ke rumah sakit karena keterbatasan dana.